Selasa, 22 Maret 2011

Saham Paling Terkena Dampak Bencana Jepang

Setiap sepekan penutupan pabrik di Jepang, perusahaan mengalami perlambatan produksi 2%


Suasana Kota Kesennuma, Jepang, setelah gempa bumi dan tsunami (AP Photo/Kyodo News)

VIVAnews - Pasca-bencana gempa dan tsunami Jepang dua pekan lalu tidak hanya memengaruhi kehidupan sehari-hari penduduk Jepang, namun juga sektor bisnis.
Gempa kali ini diperkirakan akan memengaruhi sektor manufaktur Jepang. Sebab, beberapa perusahaan otomotif dan elektronik Jepang menutup pabriknya akibat bencana tersebut.

Bank Dunia mencatat, setiap satu pekan penutupan pabrik di Jepang, perusahaan mengalami perlambatan produksi sebesar dua persen dari target tahunan. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara tujuan impor Jepang untuk sektor otomotif seperti alat berat dan kendaraan roda empat serta roda dua.

Selain itu, menurut Head of  Research PT Valbury Securities, Nico Omer, Indonesia saat ini masih mengandalkan kendaraan alat berat dari Jepang sebagai keperluan eksplorasi daerah tambang dan perkebunan seperti batu bara dan kelapa sawit.
"Adapun perusahaan tersebut seperti PT Astra Internasional Indonesia Tbk (ASII), PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA), dan PT United Tractors Tbk (UNTR)," ujar dia saat dihubungi VIVAnews.com di Jakarta.

Nico berpendapat, bencana Jepang berpotensi menurunkan target penjualan ketiga perseroan tersebut pada tahun ini, meskipun secara fundamental masih menjanjikan. "Namun, bila mereka (ASII, HEXA, dan UNTR) dapat mengalihkan pemesanan suku cadang ke supplier lain, ya tidak masalah," kata dia.

Namun, sejauh mana penurunan penjualan itu, Nico mengaku tidak dapat memperkirakannya. "Tidak seorang pun dapat memperkirakan itu, kecuali manajemen perusahaan yang berhubungan terus dengan supplier," tuturnya.

United Tractor, ia menuturkan, misalnya merupakan pemilik lisensi untuk penjualan alat berat bermerk dagang Komatsu. Hingga saat ini, perseroan masih menunggu penjelasan dari pihak Komatsu Jepang mengenai dampak bencana terhadap produksi Komatsu. "UNTR yang merupakan anak usaha Astra Internasional sampai saat ini belum merevisi target penjualan mereka," ujar Nico.

Diketahui, UNTR menguasai 55 persen pangsa pasar alat berat di Indonesia. Sementara itu, volume penjualan alat berat sejak awal tahun hingga Februari 2011 telah mencapai 1.418 unit atau meningkat sekitar 93,4 persen dibanding periode sama 2010 sebanyak 733 unit.

Sementara itu, Hexindo Adiperkasa merupakan penjual alat berat bermerk dagang Hitachi. Perseroan mencatat penjualan naik sebesar 57 persen dari US$229,6 juta menjadi US359,3 juta. Laba bersih naik sebanyak 42 persen menjadi US$30,2 juta dari US$21,2 juta pada tahun sebelumnya.

Namun, kata Nico, meski bencana Jepang diperkirakan memengaruhi target penjualan dua perseroan di atas tapi sepertinya tidak berlaku bagi Astra Internasional.  Dari segi produksi Astra, seperti mobil saat ini berpusat di Thailand dan Indonesia. Bahkan, Toyota merelokasi pabrik mereka di Thailand ke Indonesia pasca-bentrokan massa di negeri Gajah Putih tahun lalu.

Pengamat pasar modal Deni Hamzah juga berpendapat, pelaku pasar sepertinya masih fokus terhadap saham-saham yang berhubungan dengan bencana Jepang misalnya UNTR, HEXA, dan ASII. "Sebetulnya masih menarik untuk diakumulasi, meski sedikit mahal harganya," ujarnya saat dihubungi terpisah.

Dia mengakui, dengan adanya bencana di Jepang, saham dengan kode UNTR sepertinya yang paling terkena dampak. Sebab, sebagian jalur distribusi suku cadangnya ada di daerah terkena gempa. "Jadi, mungkin distribusi spare part bisa terganggu," kata Deni.

Sedangkan Hexindo, Deni menuturkan, tidak terkena karena suku cadangnya sudah banyak dibuat di negara Asia lain. Bahkan, kandungan lokal dalam negeri mencapai 40 persen. "Begitu pula dengan Astra, karena distribusi dan spare part dan penjualan ada di negara Asia lainnya," ujarnya.
• VIVAnews